Warga Kedung Mancak Keluhkan Pertambangan Batu di Gunung Mokol

SERANG, BCO – Puluhan Kepala Keluarga di Kampung Kedung, RT. 20 RW. 04, Desa Batu Kuda, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, mengeluhkan aktivitas pertambangan batu di Gunung Mokol.

Menurut keterangan masyarakat setempat, aktivitas pertambangan yang memiliki mesin pemecah batu (Crusher Stone) dan dikelola oleh perusahaan swasta tersebut, dianggap sangat mengganggu lantaran mengeluarkan suara bising dan dampak langsung yang merusak lingkungan. Terlebih, berkembang kabar akan dibangun kembali mesin pemecah batu lagi di atas gunung ini.

Pasalnya, setiap musim berganti, ada saja imbas yang merugikan masyarakat. Seperti sawah yang terendam banjir lumpur, paparan debu yang menutupi setiap rumah setiap musim kemarau, dan polusi suara karena adanya mesin pemecah batu.

“Kalau mulai operasi pengerukan sudah lama, tapi kalau crusher-nya ini baru dua tahun. Dan katanya mau dibangun lagi, inilah yang kita tolak itu. Sebab, akibat adanya aktivitas ini, kalau musim hujan sawah kebanjiran lumpur dari atas, paparan debu yang sangat mengganggu kalau musim kemarau, sama ini crusher yang bikin bising,” ucap Ahmad Juhri saat ditemui BCO, Sabtu 8 Februari 2020.

Dikatakan Juhri, sebelumnya pihak pengelola gunung pernah melakukan koordinasi dengan warga dan menjanjikan kompensasi untuk setiap orang. Namun akhir-akhir ini warga sekitar sering mendapat keterlambatan pembayaran. Ia mengaku, masyarakat setempat tidak mau menuntut apapun dari pengelola, asalkan pengelolaan gunung tersebut tidak mengganggu aktivitas warga yang berada di kaki gunung.

“Dulu kita dijanjikan per rumah itu dapat kompensasi dari perusahaan 500 ribu. Tapi seiring waktu berjalan kompensasi sering terlambat, kadang 3 bulan baru dibayar dan itupun hanya 500 ribu juga,” katanya.

“Kami enggak menuntut apapun, asalkan mereka (perusahaan) tidak menimbulkan dampak yang bikin warga rugi. Kami itu bingung, mau ngadu ke siapa,” tambah Juhri.

Di lokasi yang sama, Sohibi, Ketua RT 20 RW 04 Kampung Kedung mengatakan, pihaknya bersama warga telah melayangkan surat penolakan yang ditandatangani warga ke kantor desa dan kecamatan. Oleh karenanya ia berharap, perusahaan pengelola gunung untuk memenuhi tuntutan warga tersebut.

“Jumat minggu lalu kita sudah melayangkan surat penolakan, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan serius baik itu dari pemerintah maupun perusahaan. Kita si berharapnya, minimal pengelola bisa minnimalisirlah dampaknya ke masyarakat. Itu juga kita mendorong untuk dibikinkan saluran air biar enggak banjir lumpur yang menutupi sawah apabila hujan turun,” Sohibi menandaskan. []

0Shares