Sistem Tiket Pelabuhan Merak Dikeluhkan, Sopir Truk Beli Tiket Antre Tanpa Pshycal Distancing

CILEGON, BCO – Pengguna jasa penyeberangan Pelabuhan Merak yang dikelola PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak dikeluhkan banyak pihak lantaran sistem pembelian tiket secara online. Para sopir truk ekspedisi berdesakan saat membeli tiket dan terlihat mengabaikan pshycal distancing di tengah ancaman penularan wabah coronavirus.

Selain itu keterlambatan sistem ticketing penyeberangan di Pelabuhan Merak tersebut juga membuat jam pelayanan terhambat, mengakibatkan penumpukan kendaraan serta sopir truk ekspedisi kebingungan.

Ketua Indonesian National Ferry Owners Association (INFA) Merak, Hasyir Muhammad mengungkapkan, seharusnya pengguna jasa diberikan kebebasan dalam pembelian tiket penyeberangan dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni Lampung. Karena sistem yang diterapkan pihak ASDP saat ini dinilai belum maksimal dan jauh dari kata siap.

Dikatakan Hasyir, pihaknya mengeluhkan penerapan sistem online kepada seluruh pengguna jasa penyebrangan, termasuk sopir angkutan barang. Hal itu karena tidak semua supir angkutan dan penumpang memiliki fasilitas android untuk pemesanan tiket secara online. Akbitanya, sopir angkutan kebingunan setiap kali pemesanan tiket.

“Kenapa kebijakan online ini harus dipaksakan. Tidak semua pengguna jasa penyebrangan itu memiliki fasilitas android untuk memesan tiket online,” kata Hasyir kepada wartawan, Kamis 16 April 2020.

Keluhan lain pun diungkapkan Hasyir dengan adanya tambahan adminitrasi bank sebesar Rp3000 dan biaya administrasi koperasi Rp2000. Administrasi itu dinilai Hasyir tidak masuk akal.

“Ada biaya tambahan dan itu memberatkan. Alasannya juga tidak tepat untuk adminitrasi bank dan koperasi. Hal itu menurut saya harus di kaji,” paparnya.

Ia menyatakan, adanya penerapan sistem tiket online seluruhnya bagi penguna jasa penyebrangan harus dikaji kembali. Pasalnya secara infrastruktur di pelabuhan sendiri masih minim, termasuk tiket juga belum bisa dipesan di sejumlah minimarket atau penjualan online lainnya. Hal itu terlihat dari masih banyaknya antrean truk dan kendaraan umum di loket masuk.

“Kalau semua kaku dan dipaksakan, sementara masyarakat terutama para sopir truk belum siap. Termasuk sejumlah infrastruktur juga dinilai belum siap. Apakah ini tidak menjadi perhatian kita semua. Bahwa sebenarnya dengan memaksakan online tiket ini bahwa sebenarnya kita menciptakan ancaman Penyeberangan Merak Bakauheni itu sendiri,” imbuhnya.

Disinggung soal dampak pemberlakukan sistem online terpadu, Nasir memprediksi hal ini akan berdampak kepada perusahaan pelayaran karena kakunya sistem online.

Menurut Hasyir, tujuan dibuatnya tiket terpadu adalah untuk menjaga stabilitas serta tidak terjadi perang harga. “Kalau model ini terus dilakukan (pemaksaan tiket online). Bagaimana kalau pada akhirnya masing-masing perusahaan pelayaran akan menjual tiket masing-masing,” tukasnya.

Pihak Humas PT ASDP Merak tidak menjawab telepon wartawan saat hendak dikonfirmasi. []

0Shares