Pelanggar Prokes di Cilegon Dimasukan ke Ambulan Berisi Keranda Mayat

CILEGON, BCO – Untuk memberikan efek jera guna memperhatikan pentingnya aturan protokol kesehatan (Prokes) saat masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Tim Jawara Backbone Polres Cilegon tak segan memasukan pelanggar prokes ke dalam ambulans berisi keranda mayat dan pocong tiruan.

Bukan tanpa alasan, keranda mayat yang disiapkan itu lantaran masih banyaknya warga Cilegon terutama ‘wanita malam’ serat anak – anak punk yang enggan menerapkan aturan kesehatan saat beraktivitas diluar rumah. Terlebih lagi, sosialisasi atau imbauan yang dilakukan petugas Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19 Kota Cilegon belum maksimal sehingga membuat kepolisian membuat sebuah inovasi untuk memberikan efek jera.

Untuk mengantisipasi adanya virus yang dibawa pelanggar ketika masuk ke dalam mobil ambulans, petugas secara rutin melakukan penyemprotan cairan desinfektan untuk membuat ruangan tersebut steril.

“Kita sebagai bagian dari tim gugus tugas bertanggung jawab atas kedisplinan warganya oleh karena itu kita coba berikan pemahaman kepada masyarakat dengan cara yang berbeda. Biar apa? biar masyarakat ini mau menerapkan aturan kesehatan, karena saat ini Banten sedang PSBB ditambah lagi kasus Covid-19 di Cilegon itu tinggi. Kita bikin pelanggar ini merenung di dalam ambulans dengan ditemani pocong di dalam keranda,” ujar Kanit Turjawali Tim Jawara Backbone Polres Cilegon Ipda Yofan Bachdar kepada BCO saat melakukan patroli di sepanjang Jalan Jenderal Ahmad Yani, Sabtu malam, 19 September 2020.

Ipda Yofan menjelaskan, ide pembuatan keranda mayat itu muncul saat ia bersama timnya melakukan sosialisasi Perwal No 40 tahun 2020 secara langsung kepada masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya, banyak warga yang tidak mau mendengarkan himbauan tersebut.

“Karena banyak warga yang tetap menganggap remeh bahaya Covid-19 saat kita melakukan sosialisasi, akhirnya kita mencoba ide lain yang benar – benar membuat mereka kapok ketika melanggar prokes. Secara adat, masyarakat itu memandang keranda mayat itu berbeda. Ada sisi lain yang bisa memberikan rasa takut terhadap warga sehingga saya rasa mereka bakal patuh terhadap aturan prokes ini,” jelasnya.

Pemuda 23 tahun lulusan Akademi Kepolisian ini melanjutkan, pemilihan waktu malam sengaja dilakukan untuk memberikan kesan horor terhadap pelanggar prokes tersebut.

Yofan berharap, dengan inovasi yang mereka buat itu bisa memberikan dorongan terhadap masyarakat agar mereka tidak keluar rumah dan melakukan hal – hal negatif demi menekan kasus Covid-19 ini.

Patroli dengan membawa keranda mayat ini juga akan terus dilakukan Tim Jawara Backbone Polres Cilegon dengan menyasar beberapa tempat atau wilayah yang berpotensi menciptakan keramaian di waktu – waktu tertentu.

Hingga berita ini ditulis, razia masih berlangsung dengan menyasar beberapa tempat sepi dan mendapati sejumlah anak remaja pelanggar prokes dan wanita malam di wilayah bekas Hotel Cilegon. []

0Shares