Marjawi, Petani di Cilegon yang Bertahan Ditengah Lahan Sempit Oleh Industri dan Perumahan

CILEGON, BCO – Di tengah padatnya industri dengan investasi yang bernilai triliun rupiah dan hampir menghabiskan daratan Kota Cilegon, ternyata masih ada segelintir warganya yang memanfaatkan kondisi lahan sebagai sentra pertanian.

Meskipun masih menggunakan sistem pertanian tradisional, hal tersebut bukan halangan bagi petani untuk meraup keuntungan ketika kerasnya persaingan bisnis di era modern ini.

Seperti diceritakan salah seorang petani bernama Marjawi, warga Lingkungan Karang Tengah, Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon, yang masih semangat bercocok tanam memanfaatkan lahan miliknya untuk digunakan menanam aneka jenis sayuran.

Kepada BCO, Marjawi menuturkan, ia sudah mulai bertani dari usia muda sekitar tahun 1997 lalu ketika usianya 16 tahun. Dikatakan, jika dibandingkan dengan dahulu, kondisi lahan pertanian di wilayahnya kini mulai berkurang lantaran berganti menjadi pemukiman penduduk ataupun karena peralihan zaman dimana banyak warga lebih memilih bekerja di pabrik ketimbang mengolah tanahnya.

“Kalau sekarang mah banyak warga yang milih kerja di pabrik, padahal kalau warganya produktif ngolah lahan Insya Allah petani itu bisa sejahtera,” kata Marjawi, ditemui BCO usai memanen tanamannya di Lingkungan Karang Tengah, Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon. Sabtu, 24 Oktober 2020.

Meskipun zaman semakin menunjukan pesatnya pertumbuhan tekhnologi yang berimbas langsung pada kehidupan sosial, namun kata Marjawi, apabila petani diberdayakan lebih baik lagi persoalan harga bahan pokok tidak akan menjadi masalah yang berarti. Ia juga mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih Rp5 juta rupiah dari hasil mengolah tanah seluas 2000 meter persegi yang ditanami sayuran tersebut.

“Kita mah kalau diberdayakan terus ada penyuluhan dan penyediaan bibit yang berkualitas, hasilnya bisa mencukupi untuk kebutuhan masyarakat sekitar atau mungkin bisa lebih melimpah lagi. Disinikan lumayan tanahnya masih subur, kalau perkiraan setahun bisa Rp5 juta keuntungan bersih kan lumayan istilahnya inimah selingan aja,” ujarnya.

Lebih lanjut Marjawi mengatakan, yang menjadi persoalan petani di wilayah itu adalah kurangnya persediaan air untuk menyirami tanaman mereka sehingga berdampak langsung terhadap hasil panen ataupun kualitas tanaman. Untuk diketahui, Marjawi sendiri menanam cabai, timun, hingga padi. Setiap tahun ia bisa beberapa kali memanen tanamannya tersebut.

“Paling kendalanya air yah, kalau ada air mah hasil panennya bisa memuaskan. Kalau cabai ini tahap kedua, tahap pertama kemarin udah 10 kali panen hasilnya sekitar 1,5 ton. Dan saya jual untuk kebutuhan warga sekitar sini aja, kalau dari kita harganya 35 ribu rupiah per kilogram untuk cabai yah,” jelasnya.

Oleh sebab itu ia berharap, masyarakat bisa lebih bijak lagi dalam memanfaatkan wilayahnya demi keberlangsungan kehidupan di tengah pesatnya pembangunan. Ia juga mengajak pemuda – pemudi untuk tidak malu untuk bertani lantaran petani sendiri merupakan Peyangga Tatanan Negara Indonesia yang berperang terhadap ketersediaan bahan pokok untuk konsumsi masyarakat. []

0Shares