Kritisi Pembangunan PLTU di Cilegon, Greenpeace: Selamat Tinggal Pantai Florida. Eh.. Pulorida

CILEGON, BCO.CO.ID – Organisasi kampanye lingkungan independen berbasis riset dan kreativitas Greenpeace Indonesia, kembali menyindir soal pembangunan PLTU unit 9 dan 10 milik PT Indonesia Power yang bakal dibangun di Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Sindirian itu disuarakan melalui akun media sosial instagram resminya (@greenpeaceid) pada Selasa, 05 Januari 2020.

Dalam postingannya berpengikut 450 ribu orang itu, Greenpeace Indonesia mengucapkan selamat tinggal terhadap hilangnya destinasi wisata Pantai Pulorida yang dahulu dikelola warga setempat untuk mencari nafkah.

”Ada kabar buruk lagi nih bagi Anak Pantai.. Pantai-pantai destinasi wisata favorit di Cilegon, Banten, kini tutup. Bukan karena pandemi, tapi karena wilayahnya masuk ke area pembangunan PLTU Batu Bara di Suralaya. Pantai Pulorida dan Pantai Salira Indah sudah ditutup karena pembangunan PLTU Jawa 1-8, sekarang Pantai Kelapa Tujuh juga ditutup demi pembangunan PLTU Jawa 9-10,” tulis Greenpeace Indonesia.

Ditutupnya destinasi wisata bahari untuk kepentingan pembangunan PLTU itu, sambung Greenpeace Indonesia, tidak hanya berdampak pada mata pencaharian warga setempat yang mengandalkan tempat ini. Namun juga dinilai bakal lebih berdampak parah terhadap ekosistem lingkungan bawah laut.

“Ditutupnya pantai-pantai di Cilegon ini tak hanya berdampak pada pariwisata dan ekonomi warga yang mencari penghidupan di sekitar pantai-pantai di Cilegon, tapi juga lingkungan. Pantai yang dulu aman untuk berenang nantinya akan penuh limbah batu bara yang tentunya mematikan bagi ekosistem bawah laut,” imbuhnya.

Postingan yang diunggah satu jam lalu itu pun dibubuhi tagar #StopPLTUBaru #NoMoreCoalPowerPlants dan dipenuhi puluhan komentar dari warganet. Bahkan salah satu komentar netizen di pin oleh akun ini.

“Bener banget min, sekarang Kota Cilegon ga punya pantai di daerah barat loh 😢,” tulis akun @evaliciouzy.

Sementara akun dengan nama @ferryaddict bahkan menuliskan kenangan dari keberadaan pantai tersebut yang mana, sebelum dewasa ia sering bermain di pantai itu bersama kelurganya.

“Dulu waktu bocil kalau diajak ke pantai ke Salira atau Kelapa Tujuh tapi udh ditutup lama sekali,” tulisnya.

Postingan inipun terus dibanjiri oleh warganet yang menyayangkan pembangunan PLTU berbahan baku batubara yang dapat mempengaruhi kualitas udara di Indonesia.

Sebagai informasi, tahun 2019 lalu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) melayangkan gugatan karena pembangunan PLTU dinilai akan memperburuk kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat di sekitar. Meski demikian, proyek ini sudah mendapatkan lampu hijau dari pemerintah setempat dan sedang dalam proses pembangunan. []

0Shares