Korban PHK, Pemuda di Cilurah Sukses Budidaya Jamur Tiram

CILEGON, BCO.CO.ID – Sekelompok pemuda yang menjadi korban PHK pada masa merebaknya pandemi Covid-19 berhasil bertahan dengan membudidayakan jamur tiram putih (Pleurotus Ostreatus) sebagai mata pencaharian baru.

Meskipun masih terbatas pada alat yang digunakan, namun semangat warga tak menyurutkan niat mereka dalam mengembangkan bahan panganan bernilai ekonomi tinggi ini. Jamur tiram putih termasuk jenis pertanian yang dapat dipanen secara cepat tanpa bergantung musim asalkan mampu mengontrol suhu agar tetap stabil. Kondisi musim hujan juga dinilai menguntungkan lantaran tumbuhan jamur membutuhkan suhu lembab sehingga lebih mudah berkembangbiak.

Ali, salah seorang anggota Kelompok Tani Jamur Cilegon mengatakan, untuk mengembangkan jamur jenis ini, pihaknya menggunakan limbah kayu hasil gergaji yang kemudian di campur dengan bahan lain seperti kapur, dan kemudian di panaskan dalam oven sederhana. Selanjutnya, hasil fermentasi limbah kayu sebagai media tanam itu dicampur dengan benih jamur seblum dibungkus plastik bening dan dibiarkan menjadi putih yang artinya jamur siap tumubuh.

“Karena Cilegon dikenal sebagai kota industri, tapi peluang bekerja sangat kecil, akhirnya kita mencoba berinovasi mengembangkan jamur dan alhamdulilah berhasil. Butuh waktu 40 hari dari mulai pembibitan sampai panen pertama. Kalau jamur sifatnya tumbuh lebih cepat asalkan suhunya lembab,” kata Ali ditemui BCO di Link Cilurah, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Rabu 06 Januari 2021.

Ali menuturkan, pihaknya bersama 10 anggota kelompok tani ini menargetkan 4000 baglog (bungkus media tanam) untuk dapat memenuhi permintaan konsumen yang biasanya datang dari warga setempat. Saat ini, baru 800 baglog saja yang sudah dapat dipanen dengan rasio panen 7 kilogram per hari, dari satu kilo jamur dihargai Rp15 ribu rupiah untuk warga lokal yang datang ke gubuk 6 x 4 meter tersebut.

“Kalau sudah berubah dari coklat ke putih artinya si jamur tumbuh, dan proses panennya setiap hari bisa hingga 4-6 bulan. Per hari kita bisa dapat 7 kilogram rata-rata. Harganya perkilo Rp15 ribu, biasanya ibu-ibu yang datang,” imbuhnya.

Selain dijual kepada warga setempat, kelompok tani yang terbilang masih pemula ini juga bahkan sudah berani memasok jenis makanan tersebut untuk awak kapal asing yang bersandar di setiap pelabuhan. Jamur dijual dengan harga USD. 2,00 atau bekisar Rp. 27.863,10 (kurs 13.931,55).

“Selain untuk warga, kami juga jual ke kapal asing dengan harga USD.2,00 per kg. Alhamdulilah banyak yang tertarik, kalau kendalanya untuk memasok kapal asing itu mereka minta 50 kilo, kami belum bisa, karena terbatas dari alat dan baglog,” ungkapnya.

Ali melanjutkan, apabila seluruh baglog sudah ditumbuhi jamur, pihaknya optimis dapat memanen jamur ini 50-70 kilogram per harinya. Kendati begitu, pihaknya juga membutuhkan campur tangan pemerintah daerah dalam mengembangkan usahanya tersebut. Terutama pengadaan oven pemanas media tanam jamur. Tentunya, sambung Ali, bisnis budidaya jamur tiram putih sangat potensial dikembangkan di Kota Cilegon demi menunjang ekonomi warga setempat.

“Target kita itu 4000 baglog, Insya Allah kalau semuanya ditumbuhi kita per hari bisa dapat 50-70 kilogram. Kendalanya untuk saat ini hanya di bagian oven yah, harapannya kita bisa dibantu dalam pengadaan oven. Saat ini kita pakai drum bekas sebagai alat pemanas yang butuh waktu 8 jam,” ujarnya.

Budidaya jamur tiram putih dapat dikembangkan pada lahan yang sempit sekalipun. Bahan panganan penambah lauk pauk dengan kandungan gizi yang banyak ini pun sangat cocok diterapkan pada metode urban farming atau pertanian perkotaan. []

0Shares