Kelompok Masyarakat Sembilan Olah Limbah Jadi Barang Bernilai Ekonomi

CILEGON, BCO.CO.ID – Limbah atau sampah dari barang-barang bekas yang biasanya terbuang dan tidak bisa dipakai lagi, ternyata bisa menjadi barang bernilai ekonomi tinggi apabila berada pada tangan-tangan kreatif. Terlebih di Cilegon kerap ditemukan barang-barang bekas yang sengaja di buang karena dianggap sudah tak berharga lagi.

Terkait pemanfaatan limbah ini bahkan menjadi salah satu tema debat pilkada 2020 tahap pertama, kemarin.

Kelompok Masyarakat Sembilan (Semangat Bina Lingkungan) yang berada di Komplek Perumahan Taman Raya Cilegon, Kelurahan Gedong Dalem, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, menyulap bahan limbah tersebut menjadi aneka barang rumah tangga berkonsep artistik nan elegan.

Ketua Pokmas Sembilan, Toni Firmansyah mengatakan, Pokmas yang baru terbentuk beberapa bulan lalu karena persoalan Pandemi Covid-19 ini bahkan tidak hanya bergerak pada pengolahan limbah menjadi barang jadi, warga juga turut mengembangkan sentra pertanian berbasis teknologi sebagai upaya mendorong program pemerintah dalam hal ketahanan pangan.

“Karena kemarin di awal 2020 ada pandemi ruang gerak terbatas, akhirnya kita ngobrol sama bapak-bapak disini untuk membuat kegiatan yang positif dan menghasilkan income bagi warga. Minimal buat lingkungan kita sendiri,” kata Toni, kepada BCO ditemui di Pos Pokmas Sembilan, Minggu 22 November 2020.

Toni menjelaskan, karena dukungan warga yang antusias dengan kegiatan positif ini, mereka akhirnya merambah pada pemanfaatan lahan kosong untuk dijadikan tempat pertanian yang dikelola oleh ibu-ibu rumah tangga sekitar dengan nama Kelompok Wanita Tani (KWT).

Dimana hasil dari pertanian itu, dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga setempat yang bisa dipetik tanpa dipungut biaya. Terdapat beberapa jenis sayuran dan buah-buahan yang dikembang pokmas tersebut, dari mulai jagung hingga stroberi.

“Disini juga ada KWT, sistem pertaniannya kita pakai yang hidroponik. Alhamdulilah positif, hasilnya juga buat warga disini. Mereka bisa ambil dari hasil pertanian untuk konsumsi sendiri, kalau untuk dijual keluar belum yang penting warga disini merasakan manfaat dari pertanian ini,” jelasnya.

Disinggung soal kerajinan dari barang bekas yang di produksi oleh warga ini, Toni mengungkapkan, mereka dapat dengan mudah mencari barang bekas seperti drum hingga ember cat untuk dibuat sebagai kursi yang telah terjual ke luar Cilegon itu. Berbagai kursi dengan hiasan ini dijual dengan harga Rp100 – Rp600 ribu rupiah.

“Ini bahannya hasil swadaya kita aja, kalau penjualan sudah ke Bekasi sama Garut. Kita juga buat untuk kelurahan dan memenuhi pasar lokal Cilegon. Barang bekas ini kalau berada ditangan kreatif bisa memiliki nilai jual tinggi,” tandasnya.

Sementara Ketua RT 06 Sugeng Priyadi menuturkan, kegiatan berwirausaha secara swadaya ini juga turut di dukung oleh Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Pertanian dalam hal pengembangan ataupun bantuan bibit sayuran tersebut. Sugeng melanjutkan, pihaknya juga akan mengelola lahan kosong lainnya di wilayah ini untuk dijadikan sebagai sarana pengembangan pangan tersebut.

Sugeng berharap, kedepannya pokmas ini bisa meningkatkan kegiatan tersebut menjadi kampung agrowisata seperti di daerah lain di Indonesia. “Insya Allah akan ada pengembangan lagi, sedikit-sedikitlah. Karena alhamdulilah dari kelurahan juga dukung program kita. Insya Allah pengennya jadi kampung agrowisata gitu, mudah-mudahan saja terwujud,” tukasnya. []

0Shares