Diterpa ‘Badai’ Corona, Pariwisata Anyer – Cinangka Lesu

SERANG, BCO – Banyaknya penemuan kasus warga yang positif terjangkit Corona Virus dan penetapan status KLB oleh Gubernur Banten ternyata berdampak langsung terhadap usaha pariwisata di Anyer – Cinangka, Kabupaten Serang, yang mengalami penurunan jumlah wisatawan yang cukup drastis. Pasalnya, wisata pantai Anyer – Cinangka selama ini bisa tumbuh karena ditopang oleh wisatawan luar daerah. Seperti DKI Jakarta, Bogor, dan wisatawan Tangerang.

Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang Agus Zaenal menyebutkan, sejak awal bulan Maret 2020 penurunan jumlah wisatawan di Pantai Anyer – Cinangka sudah tampak terlihat hingga hampir menyentuh angka 80 persen. Terlebih, saat Gubernur Banten Wahidin Halim mengumumkan penetapan status KLB bagi wilayah Provinsi Banten.

“Maret ini sangat drop pak, ya kalau penurunan mungkin 70 – 80 persen pak. Tapi kalau setelah tanggal 16 (Maret 2020) kemarin yah, rata-rata okupansi dari tanggal 16 ini kan enggak lebih dari 10 persen. Apalagi hari ini, enggak tahu ditempat lain masih ada tamunya,” ujar Agus Zaenal saat ditemui wartawan di Regal Raya Cottage Anyer, Sabtu 21 Maret 2020.

Menurutnya jika dibandingkan dengan musibah Tsunami pada akhir tahun 2018 lalu, kunjungan wisatawan masih bisa terjaga. Ditambah lagi dengan upaya pemerintah daerah yang mengkampanyekan event-event besar di Anyer dan Cinangka.

Masih kata Agus, dari 1700 kamar hotel yang ada di Anyer Cinangka, diprediksi total kerugian pelaku usaha pariwisata di daerah ini berkisar Rp. 1,3 Milyar per dua hari di akhir pekan belum termasuk hati biasa dan acara-acara meeting lainnya.

“Saya kalau dihitung jumlah rupiahnya enggak bisa disebutkan, tapi dari 1700 kamar yang ada di Anyer ini dikali 400 ribu dikali 2 hari itulah kurang lebihnya.
Itu hanya weekend-nya, belum dihitung weekdaynya. Kalau nanti sampai akhir Maret, ya tinggal dihitung ajalah seperti apa,” jelasnya.

Terpisah, General Manager Allisa Resort Hotel Titi Masniati mengatakan, dampak dari pandemik Covid-19 ini sangat begitu besar bagi pelaku usaha pariwisata. Pasalnya, sebelum adanya wabah tersebut, hotel yang dikelolanya ini sering menerima banyak tamu baik wisatawan dari Jakarta maupun turis asing. Namun karena imbas dari Corona Virus, jumlah kamar di hotel ini hanya terisi 10 kamar dari 119 unit yang disediakan.

“Kami terakhir itu sepinya pas ada edaran soal penetapan KLB. Sebelumnya weekend kami ramai hampir di 60 smpe 70 persen, dan pasca itu mulai sepi hanya terisi 10 kamar. Bener-bener drastis,” ucapnya.

Titi melanjutkan, sebelum ditetapkan status KLB, pihaknya sendiri masih menerima tamu untuk beberapa acara gathering. Namun pasca penetapan, kondisi tersebut langsung anjlok drastis.

“Terakhir kegiatan di tanggal 14 dan 15 itu masih bagus, kita masih menerima grup (tamu) dari Jakarta sekitar 100 orang. Setelah itu besoknya langsung drop. Kalau sekarang jauh-lah, turun banget. Sekarang drop di angka 10 persen di weekend kita,” lanjutnya.

Kendati demikian, pihak pengelola hotel sendiri telah memprediksi atas kejadian tersebut. Oleh karenanya mereka juga membuat kebijakan tertentu bagi karyawannya yang bekerja di hotel ini dengan memangkas jam kerjanya.

“Kita sudah memprediksi akan seperti ini melihat perkembangan wabah di negara-negara lain. Nasib karyawan kita bkin pemangkasan shift aja, tapi kalau yang dirumahkan belum,” pungkasnya.

Para pengelola hotel berharap, pemerintah bjsa segera mengatasi masalah ini supaya perekonomian bisa kembali normal. Mereka juga mendorong pemerintah untuk bertindak cepat sehingga dapat memutus penyebaran virus corona tersebut. []

0Shares