Alasan Rekonstruksi Penganiayaan Hingga Tewas di Bojonegara Digelar di Polres

CILEGON, BCO – Polres Cilegon menggelar rekonstruksi penganiayaan tehadap 3 orang warga Kampung Pangrango Dukuh, Desa Pengarengan, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, yang mana dalam aksi criminal yang dilakukan oleh 7 orang pelaku tersebut telah merenggut nyawa salah satu korbannya pada Senin 17 Februari 2020 lalu.

Dalam reka adegan yang dilakukan di Mapolres Cilegon tersebut, Kamis 12 Maret 2020. Para pelaku memperagakan 45 adegan kekerasan dari awal hingga akhir kejadian yang dilakukakannya. Bahkan salah seorang pelaku yang diketahui bernama Nasrudin secara membabi buta menganiaya korban menggunakan senjata tajam jenis samurai kepada KA hingga membuatnya mengalami luka serius dibagian tubuh. KA yang merupakan adik dari Kepala Desa Pengarengan Saifulloh akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapatkan perawatan di RSUD Cilegon.

Kasatreskrim Polres Cilegon AKP. Zamrul Aini mengatakan, 45 adegan diperagakan oleh ketujuh tersangka untuk mencocokkan keterangan para tersangka dengan peristiwa sebenarnya agar bisa melengkapi berkas perkara yang akan dikirim ke kejaksaan.

“Ini merupakan deskripsi kejadian-kejadian. Biar detail, biar enggak jadi keraguan buat jaksa dalam memberikan tuntutan,” kata Kasatreskrim kepada wartawan.
Diterangkan Kasatreskrim, polisi sengaja tidak melakukan rekonstruksi di TKP awal (Area PT SGM) lantaran ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pihak kepolisian. Dan dikhawatirkan mengganggu jalannya proses rekonstruksi tersebut.
“Ya ga harus di TKP awal. Faktor keamanan juga, terus cuaca juga. Jadi dilaksanakan disini (Mapolres Cilegon),” ujarnya.

Dari hasil rekonstruksi ini terungkap motif sebenarnya pembacokanitu lantaran rebutan material sirdam atau limbah tambang di PT Sumber Gunung Maju (SGM), sehingga menjadi pemicu terjadinya pembacokan tersebut. Dari hasil penyelidikan, polisi berhasil menangkap ketujuh pelaku, yakni Nasrudin (50), Safiudin (60), Subedi (53), Muhammad Ikhsan (48), Hasuni (47), Kamal dan Iwan Fals dengan barang bukti golok, samurai, dan satu unit mobil Daihatsu Terios A 1787 ES yang digunakan para tersangka.

“Tersangka sudah lengkap, tidak ada DPO. Untuk ancaman hukuman enggak semua sama, dipilah-pilah. Untuk tersangka N mungkin paling berat karena perannya paling banyak,” terangnya.
Atas perbuatannya, para tersangka diancam pasal 340 KUHP dengan ancaman 20 tahun penjara, pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara serta pasal 170 KUHP dengan ancaman 5 tahun penjara. []

0Shares