4.368 KK di Lebak Mengungsi Akibat Banjir Bandang

Suasana di tempat pengungsian/Foto: Fitrah Nikmatullah (www.bco.co.id)

LEBAK, BCO – Banjir bandang yang menerjang 6 Kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, menyisakan cerita pilu dan duka yang mendalam. Pasalnya, banjir yang disebabkan dari luapan air Sungai Ciberang ini telah meluluhlantahkan ribuan rumah warga yang ada di 12 desa tersebut.

Akibat banjir ini juga, puluhan jembatan penghubung antar desa dan kecamatan putus. Serta, akses jalan di kawasan tersebut tertutup material lumpur sehingga tidak bisa dilintasi oleh kendaraan Tim SAR gabungan maupun relawan yang hendak menyalurkan bantuan.

Selain itu juga, akibat bencana alam tersebut, 4.368 KK (Kepala Keluarga) atau 17.200 jiwa yang ada di Kabupaten Lebak harus rela meninggalkan rumahnya untuk mengungsi mencari tempat perlindungan yang lebih aman.

“Semua warga yang terdampak bencana alam itu ditampung di delapan posko pengungsian,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Kaprawi, Minggu 05 Januari 2020.

 

Ia juga menyebutkan, ribuan warga yang mengungsi ini disebar di delapan titik pengungsian diantaranya, Posko Pengungsian Gedung PGRI Kecamatan Sajira, Posko Pengungsian Nangela Desa Calungbungur Kecamatan Sajira, Posko Pengungsian Desa Tambak Kecamatan Cimarga, Posko Pengungsian Kantor Kecamatan Cipanas, Posko Pengungsian Kecamatan Curugbitung, dan Posko Pengungsian Gedung Serba Guna Kecamatan Lebak Gedong.

Seperti diberitakan media massa, tercatat ada 1.000 rumah warga mengalami rusak berat hingga rata dengan tanah, dan membuat ribuan warga ini menghabiskan waktunya di pengungsian selama lima hari terakhir. Para korban banjir itu tersebar di enam kecamatan, antara lain Kecamatan Lebak Gedong, Cipanas, Sajira, Curug Bitung, Maja dan Kecamatan Cimarga.

“Kami mengutamakan penyaluran bantuan makanan dan kesehatan sebagai pelayanan dasar agar tidak menimbulkan kerawanan pangan dan serangan penyakit menular,” ujarnya.

Sementara itu, Kaprawi mengatakan bencana banjir bandang dan tanah longsor ini lebih parah berada di perkampungan di Kecamatan Lebak Gedong, karena lokasi tersebut dekat pertambangan liar di kaki gunung Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan aliran Sungai Ciberang.

Hingga kini BPBD bekerja sama dengan TNI, Basarnas, Polri, dan Relawan terus melakukan penanganan bencana sehingga dapat mengurangi risiko kebencanaan.

Selain itu juga pihaknya menyalurkan bantuan logistik kepada warga yang tinggal di delapan posko pengungsian berupa beras, minyak, gula, mie instan, makanan siap saji, makanan camilan, pakaian, selimut dan susu bayi. Di samping itu, pihaknya juga mendirikan posko kesehatan sehingga para pengungsi dapat pengobatan secara gratis.

Kaprawi juga mengapresiasi kepedulian berbagai instansi pemerintah, BUMN, BUMD, perusahaan swasta, media, asosiasi dan masyarakat umum yang menyalurkan bantuan kepada warga korban bencana alam tersebut. “Kami berharap warga yang tinggal di pengungsian agar menjaga kesehatan dan menjaga kebersihan agar tidak menimbulkan penyakit,” kata Kaprawi.

Sementara itu, Aminah, warga di Posko Pengungsian Desa Banjar Irigasi Kecamatan Lebak Gedong mengaku bahwa mereka para pengungsi di sini terpenuhi kebutuhan konsumsi makanan dan pakaian.

“Kami belum memikirkan untuk kembali ke rumah, karena kondisi perkampungan yang hanyut diterjang banjir bandang dan longsor,” katanya. [*]

0Shares